Larinya Sang Diam
Kencang angin malam, kaku, hantam angkuhnya kesunyian
Lirih teriak jangkrik yang tertinggal, indah, penuhi kedengkian
Lampion-lampion tegak menendang langit, kokoh, harap terangi gelapnya jiwa
Waktukah sang peduli?
Jalan setapak itu, kini mulai melebar dan beralas
Masihlah langit kemarin hiraukan kenyataan...
Atau, telah runtuhkan sigma jiwa tak beraturan
sekedar untuk dipahami..
hanya untuk dipahami..
meski bagi seusap debu
datang sampaikan kesucian yang sunyi
(Untung Suropati No.3, 01 Desember 2007, 02:29)
--------------------------------------
Selasa, 04 Desember 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar