Adakah yang merasa tidak nyaman dengan sesuatu bernama ketidaksamaan..
Adakah yang ego rasanya ingin semua orang berbuat/berlaku sama dengannya..
Adakah yang berpikir dan merasa kalau dirinya sendirilah yang paling waahh...
Adakah itu semuapun sebuah kesalahan..
Ataukah orang-orang semacam ini, berani (bahkan) menyalahkan perekayasa perbedaan fithrah yang Mahaagung lagi Maha Terpuji..
Ataukah orang-orang ini, tidak cukup puas dengan keragaman hingga sangat benci dengan dirinya sendiri..
Atau jangan-jangan, insting egois dan fithrah manusianya telah mati, beku dan dibenamkan dalam-dalam.. dalam sungut kebencian tak terukur
****---****
"Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil" (QS. Al-Maidah: 8)
" 'I dilu... (berlaku adilah!!), yang demikian itu lebih dekat kepada takwa!!.. "
Wahh...
Aneehh... bener-bener gak habis pikir..
Beberapa hari yang lalu, rio melakukan kunjungan ke sebuah tempat.. Sedikit komentar dan diskusi cukup panjang sebelum panggilan pemecah Jum'at menggema.. Pembahasan seputar BE-1... klaim penjajagan calon golkar bernama ADT yang merapat ke PKS Lampung... ADT, yang dinilai punya trek rekod yang tidak cukup mumpuni, kalo memang gak bisa disebut penjahat politik.. bla..bla..bla.. banyak dehh..
Tapi.. Satu hal yang mengganjal...
Bahasa..bahasanya itu loo.. lebih terkesan.. judging.. tersirat antipati.. kalo juga tidak bisa disebut kebencian..
Bukankah kita semua punya one equal living purpose.. I'bud ilaLlah!! Bukankah kita punya objek yang sama2 'sama' untuk kita abdikan diri kita ini.. demi mengabdi, mengenalkan nilai-nilai tertinggi islam tentang Allah dan Rasul-Nya..
Tapi.. kenapa... semua terkesan.. kita jauh begitu berbeda..
Sangat teramat berbeda..
Hahh... Biarin deh..
Bukankah Allah juga sudah menurunkan beberapa rambu tentang berkehidupan didunia ini dalam hal penghambaan..
Bukankah Allah sendiri lah yang kan kelak menilai diantara kita (semua) yang terbaik amalan? Bukankah Allah sendirilah yang memerintahkan semua proses ini bermula pada "ghayir nafsaka"?
Bukankah Allah jualah yang paling paham, siapa-siapa yang berteriak untuk-Nya atau untuk-nya??
Ya.. Toooh..
Kalau boleh menyitir sebuah hadist setingkat ma'udhu (palsu) yang menyatakan "perbedaan (bagi umatku) adalah rahmat.." Maka diluar riwayat sanad lemahnya.. Saya masih cenderung bersepakat dengan kalimat diatas.. Ya.. katakanlah... itu bukan hadist.. kata2 bijak, bagaimana?
Dalam versi Imam Hasan al-Banna, yukk.. kita saling menolong u/ hal2 yang kita sepakati (misal tujuan hidup, pedoman hidup, hal2 qath'i dalam agama ini... Monggo).. dan saling menghargai atas hal2 tidak kita sepakati (misal, metode pencapaian, cara.. dan segala sesuatu yang secara keagamaan termasuk hal2 yang furu'iyyah dan memungkinkan terjadinya perbedaan...
Oleh karena itu, adakah perbedaan itu kesalahan??
Perbedaan itu sebuah kelumrahan hidup manusia.. Sebuah bentuk apresiasi Allah swt bagi2 orang-orang yang mau berpikir.. Sebuah bentuk evaluasi berketerusan dari Rabb kita semua.. Tapi.. ternyata masih banyak orang yang berpikir sektarian, egois yang bermuara pada kalimat "jangan-jangan, kita sepakat menyalahkan Allah swt, sumber dari segala sumber... termasuk perbedaan-perbedaan..."
Allahumma Ja'alna min ahli 'ilmi wa tuqo.. Amin ya Arhamur rahiimin..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar