Ingatkah kita, pada sebuah cerita heroikal bangsa kulit putih ala Christoper Colombus (Christophorus Columbus, nama dalam spanyol) yang menyangka dirinya telah menemukan sebuah jalur lain menuju India sekaligus pembuktian -atas apa yang dipercaya- nya yaitu bentuk bulat bola dunia ini. Tapi, sangkaan tetaplah sangkaan. Hingga akhir kehidupan, tidaklah ia mempercayai klausul pertama, Colombus telah melakukan kesalahan.
Tetapi, kesalahan ini diterjemahkan dengan sesuatu yang berbeda. Di kemudian hari, Colombus dinobatkan sebagai orang yang berhasil menemukan dunia baru (new world). Dengan ditemukannya dunia baru ini juga, pancangan sebuah peradaban dunia modern tegak. Bahkan banyak titik balik sebuah cita-cita Dunia baru (New World Order, versi USA) banyak memberikan dampak yang begitu global, begitu mendunia.
Dan ini semua, terlepas adanya hal-hal negatif, bermula dari sebuah kata.. bernama Kesalahan.. Mari kita bayangkan.. seandainya, Christoper Colombus tidak pernah melakukan perjalanan yang salah. Hari ini, kita mungkin dalam keadaan dunia yang berbeda. Mungkin kita tidak saling kenal. Tidak ada pertemuan, canda tawa, ataupun keadaan yang ada pasti begitu berbeda. Ya kan!!
Ada satu lagi cerita yang lain. Sebuah cerita antara anak dan ibunya. Sang anak, disuatu kesempatan, selalu menemukan ibunya sedang memintal dan duduk di atas bangku. Hingga karena seringnya, sang anak heran atas perbuatan ibunya, yang seperti membuat benang kusut saling berseliweran disana-sini, dalam sisi pandang pribadinya. Pada keesokannya, sang anak bertanya tentang 'pekerjaan benang kusut' ibunya. Lalu, dengan tenang (dan bijak) sang Ibu meminta anaknya bersabar beberapa hari kedepan untuk bisa memperlihatkan 'handmade' nya.
Sampailah pada hari yang dijanjikan. Sang anak bergegas menghampiri ibunya untuk menagih janji. Sang ibu yang sudah berjanji pun segera menyambut dan menggendong anaknya, kemudian bergegas mengambil hasil sulam-pintalnya. Sang anak kaget terperanjat, kain itu begitu indah corak, motif, warna, temanya.. Begitu menakjubkan, sang anak begitu bingung untuk melukiskan rasa kagumnya. Tidak ribet atau kusut seperti yang ia lihat kemarin.
Dari dua cerita diatas, ada beberapa hal yang bisa kita simpulkan. Kalaupun ada kesimpulan yang lain, pingin menambahkan juga boleh. Yaitu, mungkin kita manusia begitu jengah dalam kesehariannya sambil sesekali bertanya 'mengapa dengan hidup(ku) ini?' Mengapa begini? Mengapa begitu? Kok seperti ini? Memangnya apa salah dan apa dosaku, hingga hidupku jadi begini? Gimana niih? Terus gimana?? dan kalimat-kalimat bingung-frustasi dan sejenis lainnya.
Percayalah, sesungguhnya Allah, Rabb seluruh alam, maha mengetahui semua hal terbaik untuk kita, manusia. Pada analogi dua, kita sebagai manusia mungkin akan cenderung lebih melihat rangkaian-rangkaian hidup ini seperti benang-benang kusut yang tak berkesudahan. Rumit, ruwet, ribet, gak jelas pangkal-ujungnya. Ya kan.. Tapi percayalah, cepat ataupun lambat, kelak kita akan bisa memahami bahwa ternyata skenario Allah swt itu indah dan menakjubkan. Dan, kemudian kita berkata "..., ternyata hidup ini(itu) indah".
Apa yang telah terjadi, dulu.. Sebuah kelamnya masa lalu (kah?), sebuah kejadian yang masih terasa sesak untuk dikenang/ingat? ataupun apapun itu.. Kekecewaan atas suatu hal yang (terpaksa) harus kita rasakan... Ataupun apa pun itu. Percayalah, pada akhirnya kita akan tetap berkata, "Hidup ini luar biasa, Terima kasih Allah.. atas hidup ini.. Thank you, Allah)
Bukankah, Allah tiada akan membebankan sesuatu yang tiada bisa ia tanggung? Bukankah, Allah benar-benar mengetahui segala yang terbaik untuk kita? Bukankah, (dalam segala sesuatunya) Tidaklah Allah menciptakan sesuatu dalam kesia-siaan? Bukankah pula, tiadalah Allah merubah nasib suatu kaum (seseorang), hingga kaum (seseorang) itu sendirilah yang merubahnya... Lalu, dimana kelalaian diri kita ini? Dimana letak kesabaran kita untuk menjalani dan memahami kondisi hidup kita kali ini? Apalagi kah yang masih membuat kita risau, gundah, bingung dalam menapaki step by step kehidupan ini?
Satu hal yang pasti, kesalahan pastinya tetaplah kesalahan. Tapi belumlah pasti, kesalahan pasti berujung pada kesiaan ataupun kehancuran. Bisa saja jawabannya pasti "Ya", kalau kesalahan tidaklah dicoba dimengerti atau diperbaiki... Tapi, sangat bisa jadi "Tidak" kalau kita dengan jantan mengakui kesalahan sebagai kesalahan... Tidak lempar salah, tidak cari kambing juling (tunjuk tedeng aling-aling), tidak lari dari kesalahan, tidak membesar-besarkan kesalahan, dan tidak juga terlampau meremehkan kesalahan dan jangan lupa kesalahan yang pernah kita lakukan. Hadapilah kesalahan yang kan tetap akan menjadi kesalahan dan tertoreh dalam buku harian hidup kita. Hadapi dengan semangat perbaikan, keseriusan mencari sebuah solusi, kebijaksanaan dalam menilai porsi nilai hidup, dan sejuta hikmah yang terkandung didalamnya. Insy4w1 , kita bisa meretas kehidupan yang sejauh pandang mata kedepan yang selalu jauh lebih baik.. Dan, carilah setiap tetes hikmah yang mungkin belum kita tahu, pada setiap titik (even) kehidupan (kita) ini.
"Demi Masa (1); Sesungguhnya manusia dalam keadaan yang (terus-menerus) merugi (2); kecuali, (orang-orang) yang beriman dan ber(buat) amal shalih(banyak), dan nasehat-menasehati dalam (dengan) kebenaran dan nasehat-menasehati dalam (dengan) kesabaran (3)" (QS. Al-Ashr)
ShadaqaLlah.
(Inspired by Moamar Emka - PodiUm DeTik (sebuah essei) dan Knight Templar, Knight of Christ - Rizky Ridyasmara)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar