Dua hamparan terpurnamakan
Sepi menghadap senyap..
Merah dan kelabu, bias terang petik jemari..
Senyap memhentak-hentak jejak bulan bercahaya?
Karena ucapan, lisan enggan terungkap..
Terungkap..
Bulan terengah, duduk bergetar lalu hilang..
sembunyi..
Terbang tertahan menunggu arak sang awan berkejaran..
Tapi.. tetaplah sepi..
Karena langit bersabda yang kan mungkin diamkan segalanya..
Maka tepatlah sepi, dalam tetap yang berkesudahan...
Adakah bintangkan rasa malam-malami bulan?
Solo (jawa tengah), 30 Oktober 2007 07.10
Selasa, 30 Oktober 2007
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar