Oke... tulisan kedua ini juga akan masih berdeskripsi kriteria.
Yaitu kemandirian.
Seorang wanita akan dirasa memiliki nilai lebih saat secara umum terlihat kokoh (struggle) dalam menjalani hari-harinya. Secara umpama, tidak ada satupun dari kita yang ingin menjadi sekedar Baby Sitters bagi pasangannya.
Kecenderungan juga, wanita ini biasanya lumayan terlihat dalam pada kemampuannya mengatur dunia finansial dan pribadinya secara keseharian.
Walaupun tidak dilarang, seorang wanita untuk bermanja-manja. Malah hal ini terkadang dianjurkan. Tapi, untuk beberapa sisi kemandirian tetaplah yang diutamakan.
Terkait abilitas satu ini, kenapa menjadi penting? Karena ternyata, kemandirian yang muncul akan mempunyai dampak saat kelak dihadapkan dengan problematikan dunia rumah tangga yang jauh lebih rumit daripada saat melajang. Maka, survey dan data dilapangan juga akan berkorelasi positif terkait dengan kehidupan rumah tangga wanita itu kelak.
Dibalik nilai pembiasaan jiwa mandiri, juga mengandung rasa keinginan untuk terus melakukan inovasi & kreativitas yang diperlukan pada tahap-tahapan yang ada untuk diselesaikan dengan tuntas. Jika saja, implementasi jiwa mandiri tidak tertanam dengan baik. Sangat bisa jadi, kekokohan untuk mengarungi kehidupan bersama itu malah tidak mampu untuk sekedar menahan angin semilir cobaan yang mengalir.
WaLlahu a'Lam..
(to be continued...)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar