Minggu, 30 September 2007

manusia dan zombie modern

Apa yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran?

"Hidup adalah penderitaan," kata Buddha dan manusia tidak bisa lepas daripadanya

Bagiku kesadaran akan nilai sejarah adalah akan hidup dan kesia-siaan nilai-nilai. Memang hidup seperti ini tidak enak. "Happy is the people without history," kata Dawson.

Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai benar dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas agama, ormas, atau golongan apapun.

Saya memutuskan akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah kepada kemunafikan.

Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi, dll. Setiap tahun adik-adik saya dari sekolah menengah datang. Mereka akan menjadi korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.

Bagi saya kebenaran bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita.

Bagi saya ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dan dapat merasai kedukaan.

To be a human is to be distroyed.

Mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.

I'm not an idealist anymore, I'm a bitter realist.

Saya kira saya tak bisa lagi menangis karena sedih. Hanya kemarahan yang membuat saya keluar air mata.

(Soe Hok Gie, 19**)


Terkadang hidup memang menyesakkan. Kita seolah hidup diantara tataran-tataran idealis utopis yang kejam. Saya sepakat dengan kata Soe (Hok Gie), kita melakukan ini semua pada paparan yang sangat unfair. Semua diukur dengan kata bernama kenyamanan. Tidak Lebih. Seolah semua orang yang tidak sesuai dengan kita, adalah penjahat. Setiap perbuatan yang menyakiti kita adalah kejahatan.

Adalah benar, kita diciptakan dalam bingkai human socialist. Bukan sebagai Malaikat. Tapi, disanalah seharusnya arah hidup kita juga berlandas. Karena ada keinginan bagi kita untuk dicintai dan diperhatikan. Lalu apa yang pernah kita lakukan. Kita bahkan tidak peduli dengan orang yang ada disekitar kita. Kita berubah menjadi zombie-zombie berjalan tegak dalam bayangan sekuler bernama modern. Hanya berharap dan merasa, bahwa hanya kita yang butuh cinta dan kasih sayang. Orang lain, tidak?? Mungkin.

Kebenaran itu sendiri, kini hilang batasannya. Seolah setiap orang bisa mengklaim, ditangan merekalah kebenaran itu berada. Ada orang-orang yang bergerak atas nama Partai Agama dan berjalan dengan kacamata kudanya. Ataupun golongan-golongan lainnya. Benarkah kebenaran hanyalah mutlak monopoli mereka. Ini sangat naif. Benar, agama adalah bingkai. Tapi, kebenaran tetaplah kebenaran. Mungkin juga, alasan bergerak kelompok tadi karena yang paling mendekati kebenaran adalah agama. Tapi sekali lagi, kebenaran tetaplah milik kebenaran itu sendiri.

Hendaklah nilai-nilai kebenaran merasuk dalam jiwa-jiwa kita. Mungkin jamaah saya, jamaah anda, ataupun jamaah kita sedang dalam kebenaran dalam bimbingan ustadz/guru/pimpinan kita masing-masing. Tapi, suatu saat mereka pun bisa salah. Berpeganglah pada nilai yang lebih haq. Karena, setiap kekuasaan yang mutlak cenderung korup (Lord Action), dan jamaah termasuk didalamnya. Dengan berbagai bentuk jelmaannya.

Tidak ada komentar:

dari mana aja sih yang baca nih blogg??

Dengerin Album Jikustik - Siang